1.
Bahwasanya Nabi Muhammad bukan tokoh fiktif, rekaan, mitos, legenda,
atau bahkan cerita rakyat yang di ada-ada. Karena telah ada ratusan ribu buku
dari dahulu hingga sekarang ini yang menulis biografi atau sejarah hidup
beliau. Maka mengidolakan sinchan, doraemon, naruto-sakura,
tsubasa, ultraman, power ranger, spiderman, mickey mouse, barbie, putri salju,
the princess adalah hal yang tidak masuk
akal.
2. Tidak ada satupun riwayat hidup
yang ditulis secara lebih lengkap mengenai ucapan, perkataan, ketetapan, gaya
hidup dan seluruh pernak-perniknya selengkap riwayat hidup Rasulullah. Yang
jujur dan tidak dilebih-lebihkan dalam penulisannya. Tidak seperti kebanyakan
buku biografi tokoh saat ini yang banyak dibumbui kedustaan dan jauh dari
kenyataan.
3. Tidak ada alasan lain yang
membuat seorang muslim tidak menjadikan beliau sebagai qudwah / uswah / idola.
Sedangkan beliau telah memberi contoh dalam seleuruh perkara. Dari bagun tidur
sampai tidur lagi. Bagi laki-laki dan perempuan. Remaja maupun tua. Miskin
maupun kaya.
4. Sebagai seorang yang mengaku
muslim dari bayi, malu rasanya menjadikan orang lain sebagai idola selain
beliau. Ingat! Hanya beliau, manusia yang tercatat seluruh sisi perjalanan
hidupnya secara lengkap dan akurat.
5. Keagungan akhlak beliau telah
mendapat garansi dari Sang Pencipta langit dan bumi.
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Al Qalam: 4)
6. Beliau adalah manusia. Dan kita
pun manusia. Maka bagaimana mungkin kita tidak mengidolakannya?
“Sesungguhnya telah ada
pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang
yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.” (Al Ahzab: 31)
Kita pasti bisa mengikuti beliau, walaupun tidak
se-seratus persen-nya.
7.
Hanya beliau, satu-satunya idola yang menghendaki
kebaikan, keselamatan, dan begitu mencintai ‘fans’nya. Tidak seperti kebanyakan
orang yang diidolakan saat ini, yang justru memanfaatkan penggemarnya untuk
meraup kekayaan-mencari kepopularitas-an. “Sungguh telah
datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat
belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At Taubah: 128)
Pojok inspirasi: Salim A. Fillah. “Nikmatnya Pacaran Setelah
Pernikahan”. Pro-U Media: Yogyakarta. Cetakan ke-19: 2012
Posting Komentar