0


Tujuh alasan mengapa kita harus menjadikan Rasulullah  sebagai idola Utama

1.    Bahwasanya Nabi Muhammad bukan tokoh fiktif, rekaan, mitos, legenda, atau bahkan cerita rakyat yang di ada-ada. Karena telah ada ratusan ribu buku dari dahulu hingga sekarang ini yang menulis biografi atau sejarah hidup beliau. Maka mengidolakan sinchan, doraemon, naruto-sakura, tsubasa, ultraman, power ranger, spiderman, mickey mouse, barbie, putri salju, the princess adalah hal yang tidak masuk akal.

2.   Tidak ada satupun riwayat hidup yang ditulis secara lebih lengkap mengenai ucapan, perkataan, ketetapan, gaya hidup dan seluruh pernak-perniknya selengkap riwayat hidup Rasulullah. Yang jujur dan tidak dilebih-lebihkan dalam penulisannya. Tidak seperti kebanyakan buku biografi tokoh saat ini yang banyak dibumbui kedustaan dan jauh dari kenyataan.

3.  Tidak ada alasan lain yang membuat seorang muslim tidak menjadikan beliau sebagai qudwah / uswah / idola. Sedangkan beliau telah memberi contoh dalam seleuruh perkara. Dari bagun tidur sampai tidur lagi. Bagi laki-laki dan perempuan. Remaja maupun tua. Miskin maupun kaya.

4.  Sebagai seorang yang mengaku muslim dari bayi, malu rasanya menjadikan orang lain sebagai idola selain beliau. Ingat! Hanya beliau, manusia yang tercatat seluruh sisi perjalanan hidupnya secara lengkap dan akurat.

5.     Keagungan akhlak beliau telah mendapat garansi dari Sang Pencipta langit dan bumi.
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Al Qalam: 4)

6.      Beliau adalah manusia. Dan kita pun manusia. Maka bagaimana mungkin kita tidak mengidolakannya?
 Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab: 31)
            Kita pasti bisa mengikuti beliau, walaupun tidak se-seratus persen-nya.

7.      Hanya beliau, satu-satunya idola yang menghendaki kebaikan, keselamatan, dan begitu mencintai ‘fans’nya. Tidak seperti kebanyakan orang yang diidolakan saat ini, yang justru memanfaatkan penggemarnya untuk meraup kekayaan-mencari kepopularitas-an. Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At Taubah: 128)

Pojok inspirasi: Salim A. Fillah. “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan”. Pro-U Media: Yogyakarta. Cetakan ke-19: 2012

Posting Komentar

 
Top