SUDAH jamak sekarang bahwa kaos bola pun dipakai untuk keseharian. Tak hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak misalnya.
Kaus-kaus bola, baik yang asli maupun produksi tiruan dari dalam
negeri, bertuliskan nama-nama pemain bola pun sering kita lihat.
Asy Syaikh Syaikh Dr. Shalih ibn Fauzan ibn Abdullah ditanya tentang
memakai baju yang dipakai orang-orang kafir di mana di bagian
punggungnya terdapat nama olahragawan (pemain bola) kafir tanpa
meniatkan tasyabbuh (meniru kebiasaan) mereka. Maka beliau menjawab:
“Perbuatan ini termasuk pengagungan terhadap orang kafir. Selama ia
memakai baju yang terdapat nama orang kafir atau gambarnya, maka ini
termasuk pengagungan terhadap orang kafir. Tidak diperbolehkan.
“Minimal hukumnya adalah haram. Dan apabila ia memang berniat mengagungkannya, dikhawatirkan ia jatuh dalam kemurtadan.
“Ini adalah bentuk pengagungan terhadap orang kafir. Selama dia
memakai bajiu yang ada nama atau gambar orang kafir maka ini adalah
bentuk pengagungan padanya.
“Maka ini tidak diperbolehkan. Paling sedikit hukumnya adalah haram.
Apabila dia mengagungkan orang kafir tersebut maka dikawatirkan dia
jatuh pada kemurtadan. Na’am.”
Sekilas Syaikh Syaikh Dr. Shalih ibn Fauzan ibn Abdullah
Syaikh Dr. Shalih ibn Fauzan ibn Abdullah berasal dari keluarga
Fauzan dari suku Ash Shamasiyyah.Beliau lahir pada tahun 1354 H/1933 M.
Ayah beliau meninggal ketika beliau masih muda, jadi beliau dididik oleh
keluarganya. Beliau belajar al Quran, dasar-dasar membaca dan menulis
dengan imam masjid di kotanya, yaitu yang mulia Syaikh Hamud ibn
Sulaiman at Tala’al, yang kemudian menjadi hakim di Kota Dariyyah (bukan
dar’iyyah di Riyadh) di sebuah wilayah Qhosim.
Syaikh Fauzan kemudian belajar di sekolah negara bagian ketika baru
dibuka di Ash Shamasiyyah pada tahun 1369 H/1948 M. Beliau menyelesaikan
studinya di sekolah Faisaliyyah di Buraidah pada tahun 1371 H/1950 M.
Kemudian, beliau ditugaskan sebagai guru sekolah taman kanak-kanak.
Selanjutnya, beliau masuk di institute pendidikan di Buraidah ketika
baru dibuka pada tahun 1373 H/1952 M, dan lulus dari sana tahun 1377
H/1956 M. Beliau kemudian masuk di Fakultas Syari’ah (Universitas Imam
Muhammad) di Riyadh dan lulus pada tahun 1381 H/1960 M.
Setelah itu, beliau memperoleh gelar master di bidang fiqih, dan
meraih gelar doctor dari fakultas yang sama, juga spesialis dalam bidang
fiqih.
Setelah kelulusannya dari Fakultas Syari’ah, beliau ditugaskan
sebagai dosen di institut pendidikan di Riyadh, kemudian beralih menjadi
pengajar di Fakultas Syari’ah. Selanjutnya, beliau ditugasi mengajar di
departemen yang lebih tinggi, yaitu Fakultas Ushuluddin. Kemudian
beliau ditugasi untuk mengajar di mahkamah agung kehakiman, di mana
beliau ditetapkan sebagai ketua. Beliau lalu kembali mengajar di sana
setelah periode kepemimpinannya berakhir. Beliau kemudian menjadi
anggota Komite Tetap untuk Penelitian dan Fatwa Islam (Kibaril Ulama),
sampai sekarang.
Yang mulia Syaikh adalah anggota ulama kibar, dan anggota komite
bidang fiqih di Mekkah (cabang Rabithah), dan anggota komite untuk
pengawas tamu haji, sembari juga mengetuai keanggotaan pada Komite Tetap
untuk Penelitian dan Fatwa Islam. Beliau juga imam, khatib, dan dosen
di Masjid Pangeran Mut’ib ibn Abdul Aziz di al Malzar.
Beliau juga ikut serta dalam surat-menyurat untuk pertanyaan di
program radio “Noorun ‘alad-Darb”, sambil beliau juga ikut serta dalam
mendukung anggota penerbitan penelitian Islam di dewan untuk penelitian,
studi, tesis, dan fatwa Islam yang kemudian disusun dan diterbitkan.
Yang mulia syaikh Fauzan juga ikut serta dalam mengawasi peserta tesis
dalam meraih gelar master dan gelar doctor.
Beliau mempunyai murid-murid yang sering menimba ilmu pada pertemuan dan pelajaran tetapnya.
Beliau sendiri termasuk bilangan para ulama terkemuka dan ahli hukum, yang mayoritas para tokohnya antara lain:
Yang mulia Syaikh ‘Abdul-’Azeez ibn Baaz (rahima-hullaah);
Yang mulia Syaikh ‘Abdullaah ibn Humayd (rahima-hullaah);
Yang mulia Syaikh Muhammad al-Amin ash-Shanqiti (rahima-hullaah);
Yang mulia Syaikh ‘Abdur-Razzaaq ‘Afifi (rahima-hullaah);
Yang mulia Syaikh Saalih Ibn ‘Abdur-Rahmaan as-Sukayti;
Yang mulia Syaikh Saalih Ibn Ibraaheem al-Bulaihi;
Yang mulia Syaikh Muhammad Ibn Subayyal;
Yang mulia Syaikh ‘Abdullaah Ibn Saalih al-Khulayfi;
Yang mulia Syaikh Ibraaheem Ibn ‘Ubayd al-’Abd al-Muhsin;
Yang mulia Syaikh Saalih al-’Ali an-Naasir;
Yang mulia Syaikh ‘Abdullaah ibn Humayd (rahima-hullaah);
Yang mulia Syaikh Muhammad al-Amin ash-Shanqiti (rahima-hullaah);
Yang mulia Syaikh ‘Abdur-Razzaaq ‘Afifi (rahima-hullaah);
Yang mulia Syaikh Saalih Ibn ‘Abdur-Rahmaan as-Sukayti;
Yang mulia Syaikh Saalih Ibn Ibraaheem al-Bulaihi;
Yang mulia Syaikh Muhammad Ibn Subayyal;
Yang mulia Syaikh ‘Abdullaah Ibn Saalih al-Khulayfi;
Yang mulia Syaikh Ibraaheem Ibn ‘Ubayd al-’Abd al-Muhsin;
Yang mulia Syaikh Saalih al-’Ali an-Naasir;
Beliau juga pernah belajar pada sejumlah ulama-ulama dari Universitas
al Azhar Mesir yang mumpuni dalam bidang hadist, tafsir, dan bahasa
Arab.
Beliau mempunyai peran dalam menyeru atau berdakwah kepada Allah dan
mengajar, memberikan fatwa, khutbah, dan membantah kebatilan.
Buku-buku beliau yang diterbitkan banyak sekali, namun yang
disebutkan berikut hanya sedikit antara lain Syarah al Aqidatul
Waasitiyya, al Irshadul Ilas Sahihil I’tiqad, al Mulakhkhas al Fiqih,
makanan-makanan dan putusan-putusan berkenaan dengan sembelihan dan
buruan, yang mana ini merupakan bagian gelar doktornya. Juga kitab at
Tahqiqat al Mardiyyah yang merupakan bagian gelar master beliau. Lebih
lanjut judul-judul yang masuk putusan-putusan berhubungan dengan
kepercayaan wanita, dan sebuah bantahan terhadap buku Yusuf Qaradhawi
berjudul al Halal wal Haram. [sahab]
Sumber
Sumber
Posting Komentar